Istri Binangkit / Mojang Priangan
“Pada malam ketika semua tlah lelap tidur, aku masih termangu di depan cermin, ku usap wajahku yang beberapa hari ini tak lagi sempat kuberi polesan bedak juga bibir ini yang {”sensual” kata suamiku kala ia punya suatu maksud} tak juga kuberi lipstik, entah kenapa semenjak kejadian itu aku tak lagi punya keinginan apa2, badanku seakan tak lagi bertulang aku tak berdaya . Aku hampir terkantuk juga duduk didepan cermin itu, kulihat jam dinding ternyata hari sudah menjelang pagi.akhirnya ku baringkan juga badanku disamping suamiku. akhirnya aku tertidur juga .
“Maaaaaaaah… tumben sih mamah bangun kesiangan” suamiku berbisik ditelinga begitu lembutnya sambil membelai rambutku. Kubuka mataku sambil tersipu malu aku berusaha bangun, karena hampir selama masa perkawinanku yang menginjak 17 tahun aku baru kali ini bangun kesiangan. “Mamah sakit kaaaaah ??? katanya sambil memijit2 keningku,. “Mamah ga apa2 kok Pah, cuma pusing dikit ” kataku sambil aku berusaha berdiri, tapi yaaa ampuuuun.. aku dipeluk erat skali, aku hanya diam, tapi suamiku smakin giat mencumbuku, yang pada akhirnya aku pun tak kuasa menehan gejolak dalam diri yang hampir satu (1) tahun ku tahan. “Maaahhhh….jangan tinggalkan Papah ya Maaahhh, maafin papah”. aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Ah kenapa disaat seperti ini terbersit dihatiku perasaan pedih, tapi aku seperti biasa walau bagaimanapun aku selalu mencoba tegar. Suara pintu diketuk dari luar ternyata anakku memanggil-manggil “Mah…mamah !!!” suamiku bergegas membukakan pintu. “Ada apa siiih cantik, memanggil-manggil mamah ?” tanya suamiku sambil meloyor pergi kekamar mandi. Anakku yang satu ini paling cantik diantara ketiga anakku, betapa tidak karena dia adalah satu2nya anak perempuan kami, yang sulung laki-laki gagah seperti papahnya dan yang ketiga tampan seperti bekas pacarku yang kini jadi suamiku. “Mah..mamah sakit yah, ya sudah ga usah masak ya mah, biar nanti kita beli saja, pokoknya hari ini mamah istirahat, ” katanya sambil tangannya yang rancut (ramping ciut atau mungil) membereskan isi kamar, tak lupa sesekali dia duduk disampingku sambil menciumku berulang kali. (Bahagianya aku) Setelah semua berangkaat kemasing-masing tujuannya tinggal aku sendiri dirumah, duh sepi mulai menyelimuti suasana rumahku “terutama ruang hatiku”. Pegal juga rasanya berbaring begini walau belum tengah hari. Aku seperti biasa mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, menyapu, mengepel pokoknya pekerjaan rutin yang selalu kukerjakan setiap hari tak bisa kutinggalkan hanya saja hari ini aku libur tidak mencuci baju. Setelah semua beres aku mandi lalu aku mulai duduk didepan cermin lagi, ku raba wajahku kucoba tersenyum sendiri, aaaahhh… ternyata senyumku masih separti dulu, jadi apa yang berubah dari wajahku… ???? setiap aku bercermin seperti ada yang kurang dari wajahku. Hidungku lumayan kata orang mancung, mataku sipit seperti blasteran indo jepang gitu. kagi asik-asik kudengar telepon berdering . “Aduh siapa legi yang nelpon” gumamku sambil beranjak dari depan cermin. “hallooo,…hallooo..waalaikum sallam,” jawabku ternyata suamiku yang nelpon “gimana mah…masih lemes ??? ya ingat apa kata sicantik tadi !!” kata suamiku mengingatkan “iya mamah ingat kok pah ” gumamku manja. “Nah begitu dong itu baru istrikuuuu, pujaankuuuu yang segalagalanya bagikuuuu.” “udah dulu ya pah, mamah pusinng” kataku menyudahi padahal aku hanya merasa gimana gitu mendengar kata2nya, padahal dari dulu suamiku sering mengucapkan kata2 seperti itu. Jam hampir pukul 12 siang anakku yang no 3 blm pulang, was2 juga kemana dulu ya dia ?. sambil menunggu aku berbaring dikamar sambil menerawang hari2 yang tlah kujalani. “Mah..mah..mamah…!!! sakit kah ??? tanya anakku yang no 3 sambil telapak tangannya ditaruh dikeningku, kulihat raut wajahbya yang polos lucu sekali. Aku tersenyum bahagia betapa tidak Allah telah memberiku anak2 yang manis dan pengertian padaku, alhamdulillah ya Allah. “Mah.. kenapa kok bengong sihhh……., ayooo…..!!! mamah ga boleh ngelamun dong maaah” aku tersentak kaget juga, lalu kuraih tangannya agar dia memelukku, tiba-tiba awww berat sekali, “aduh….beratnya mamah ga bisa nafas ni sayang….” kataku seperti merintih. Ya ampun rupanya sisulung ikut memelukku dibelakang si bungsu, seraya berujar “Udah de gantian giliran kaka yang mencium mamah sekarang” sisulung merebut posisi ade nya, si bungsu juga pasti mengalah kalo si sulung yang minta, mereka dah pada hafal kalo si kaka ini selalu ingin dekat mamahnya. Tak terasa hari menjelang sore, akupun seperti biasa pergi kedapur untuk membuat secangkir teh buat suamiku yang tak lama lagi akan segera pulang dari kantor. selepas itu aku sibuk menyirami tanaman didepan teras sambil mendengarkan tetangga kanan kiri yang lagi pada asik berceloteh, sesekali mereka memanggilku tuk ikut bergabung, aku hanya tersenyum sambil mengangguk, (apapula yang akan aku ceritakan pada mereka seandainya aku ikut gabung ???). Ketika menjelang magrib si cantik pulang dari sekolah, kulihat wajahnya merah merona, gdupraakkkk…. si cantik melempar tas sekolahnya. “Maaaaaaaaaaaaaaaah…..Samlikum !!!”. katanya dengan suara manja “waallaikum sallam ” jawabku “mamah udah sembuhkah…???. ia berteriak sambil membuka sepatu. “Udah dong sayang berkat doa kalian bertiga “. kataku sambil menghampirinya, kucium pipinya yang sedikit agak lengket karena keringet. “Cantik… sebentar lagi azan magrib kita solat berjamaah nanti berlima, ok…?” kataku, memang kami selalu berusaha tuk melakukan solat berjamaah. “siap !!! laksanakan moooom”.katanya. Setelah solat magrib seperti biasa mereka masing2 masuk kekamarnya untuk belajar. suamiku selalu setia duduk didepan TV menonton berita sampai jam 9 malam. sedangkan aku sendiri lebih suka membaca majalah masak memasak begitu juga malam ini. tengah malam aku terjaga dari tidurku, kulihat suamiku tidur pulas sekali. kupandangi wajahnya, sebersit perasaan itu muncul lagi, aku sendiri ga tau kenapa. dengan perasaan pilu aku berjalan menuju kekamar anak-anakku kepandangi wajah meraka, “aaaahh …bisakah aku…..” gumamku. lalu aku kembali kekamarku ku ambil air wudlu, aku solat tahajud 2 rakaat. dalam solat aku memohon pada allah agar aku deberi petunjuk, aku menangis sepuasnya. Tapi malam ini ketika aku terjaga dari tidurku tak kulihat suami disampingku, juga tak dapat aku melihat wajah ketiga anakku y ang sangat aku sayangi. kugelengkan kepalaku, kukedip-kedipkan mataku barangkali aku sedang bermimpi. Ternyata aku tidak sedang bermimpi, aku disiini sendiri. aku masih ingat ketika pagi itu aku dapat telepon “hallooo…halloooo”. tak ada sahutan dari sebrang sana, ku ulangi ” hallooo…siapa ini ya ? ” tanyaku “saya temen kamu, g perlu tau siapa aku, aku hanya menaruh simpati sama kamu, pada apa yang sedang kamu alami” katanya “simpati…..??? emang kenapa dengan aku”. aku bertanya dengan nada heran. “ya aku ga tahu, kamu kan yang lebih tahu dari aku. tadinya aku gak terlalu peduli dengan cerita orang2 (teman2) tapi begitu aku mendengar sendiri dari yang bersangkutan, uku jadi sedikit keki juga.”.dia berhenti sejenak. aku mulai penasaran tadinya lantas aku bertanya “terus gimana lagi ?. Dia tidak langsung menjawab hanya suara desahan yang aku dengar “hhhhmmm….gimana ya, gini aja gimana kalo besok hari sabtu kamu datang kesebuah tempat sekitar jam 12 siang”. katanya sambil menyebutkan nama tempatnya. aku terdiam sejenak betapa tidak aku sedikit heran kenapa aku harus datang kesitu, untuk apa?, memang ada apa disana, aneeeh pikirku. “gimana siapkan ?, aku juga siap nemani kalo kamu mau”. “emh…….gimana ya…., lihat gimana besok sabtu aja soalnya hari sabtu besok aku lagi repot sih, tapi insya allah dech”. setelah solat subuh aku biasanya tidur lagi, tapi kali ini ga tahu kenapa hatiku seperti gelisah. ya gelisah menanti jam 12 siang. tapi setengah dari pikiranku waktu ingin cepat berlalu, setengah lagi rasanya gak menentu. sambil kuraih sebuah majalah wanita, aku buka halaman demi halaman tapi semua yang kubuka ga ada yang menarik hatiku. kudengar telepon berdering, cepat2 aku berlari ku angkat gagang telpon dengan ragu kutaruh sitelingaku dengan perasaan yang bercampur baur. sejujurnya terbersit dihati kecil ini ingin mencabut kabel telepon biar aku ga dapat dihubungi oleh temanku itu. “hallo…hallo…” kudengar suara dari sebrang sana aku tersentak kaget. “ehh…ohhh…ya hallo”, kataku “kenapa kok ngelamun sih mah…?”. terdengar suara suamiku penuh keheranan. “ga apa2 itu tadi lagi baca majalah, denger suara telepon bunyi jadi kaget pah.”. aku terpaksa bohong. ” nanti papah ga pulang siang ya mah, mamah makan sama anak2 aja ya, ini ada sedikit kerjaan ekstra yang harus selesai sore ini” katanya. badanku sedikit gemetar mendengar alasan suamiku, aku teringat cerita temanku, ah apa mungkin betul seperti itu, aku masih tak mau percaya pada semua yang diceritakan temanku itu, walaupun dia adalah salah satu teman dekatku. aku hanya mengiyakan. mudah2an semua itu tidak benar, aku menghibur diri.
aku seperti dihimpit bumi dan langit, aku ingin berteriaaaaaaaaaaaaak…, aku ingin berlari…berlari entah kemana. tapi ternyata aku tak mampu melakukan semua itu, tidak juga aku duduk didepan cermin seperti hari-hari sebelumnya, kali ini aku benci melihat diriku…aku hanya bisa mengadu pada seorang yang kini tlah tiada dia adalah ibuku. ” maaaaaaaa….kenapa semua ini harus aku alami, kenapa maaaaaaaa…!!!!. betapa aku mencintai suamiku tapi inikah balasan dari apa yang aku tlah berikan. aku begitu terpukul. masih terbayang ketika aku masuk kesebuah hotel yang disebutkan sahabatku, lalu kuparkir motor kesayanganku, bergetar selluruh tubuhku, apakah aku sedang bermimpi ??? kugeleng-gelengkan kepala ku ternyata aku tidak sedang bermimpi. aku turun dari motorku lalu aku hampiri dua buah motor yang sudah tak asing lagi bagiku, lalu aku bergegas masuk lobby hotel menuju receptionis, aku bertanya pada receptionis yang sedang bertugas nama suamiku yang cek in pada jam sekian kataku. tadinya aku tak diperbolehken barangkali memang itu sedah jadi peraturan tapi aku beralasan bahwa aku temannya dan mau ngasi informasi kalo istrinya mau nyusul ke hotel. barangkali dia berpikir dari pada terjadi keributan nantinya akhirnya dia mengijinkan aku melihat daftar nama dan nomor kamar nya. bergegas aku menuju kekamar yang tlah disebutkan. aku hanya mampu berdiri terpaku didepan pintu kamar, aku tak kuasa untuk mengetuk pintu. kuambil handphoneku aku coba menghubungi nomor suamiku, ternyata aktiv dan dia mengangkat telephoneku, aku bukan mendengarkan suara di hanphone melainkan suara dari dalam kamaar yang terdengar nyaring, ya itu adalah suara suamiku. tanpa ku jawab aku berlari menuju parkiran, aku tak tahu harus berbuat apa.
sekian bulan berlalu aku tak juga bereaksi, aku seperti biasa melakukan tigasku sebagai seorang istri, hanya saja aku sering menolak jika suamiku mengajak berkencan. tapi jika aku ingat nasihat ibuku, bahwa juka seorang istri menolak ajakan suaminya, itu adalah dosa. jadi aku dengan penuh kesadaran sebagai seorang istri aku tetap melayani.
tanganku meronta-ronta, aku berteriak memanggil anak2ku, merekapun sama. aku terus meronta …hingga praaaaaaaaaakkkkkk..gedebukkk.. kepalaku terasa sakit, kunyalakan lampu kamar achhhhhhhhhhhhh…ternyata aku terjatuh dari tempat tidurku. aku duduk termangu diatas tempat tidurkuaku menerawang jauh kesebrang lautan dimana anak2ku kini berada. aku rindu anak2ku, aku rindu pada suara manja mereka, tawa canda mereka. andai saja aku….mau berkorban demi anak2ku barangkali saat ini aku sedang terlelap tidur desamping sebungsu yang selalu manja.
aku yang pantang merasa menyesal walau apapun yang terjadi, kini dihati kecilku selalu terbersit perasaan bersalah.
ternyata hidup adalah suatu perjuangan yang selalu perlu pengorbanan baik itu berupa kerja keras hati memerangi perasaan sakit, yaaa… wallau sesakit apapun kita tak perlu menghindarinya.
cukup aku yang merasakan betapa pahit hidup jauh dari orang2 yang kita sayangi. apa arti kata “IBU” tanpa keberadaan anak2 disamping kita. anak2 ku maafkan aku ibumuuuuuu…..
smoga tulisanku ini bisa sedikit mengurangi beban dalam hatiku. amien.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | 31 | ||||
One Response for "secuil cerita"
Perkencong perkencong waru doyong bok bolong….wah kenapa ragu ya trus saja diselesaikan spy segera tuntas….tapi mungkin bijaksana klo diam mudah2an ga sakit
Leave a reply